Pantura Jawa Edisi II - 12 May 2009 - Penerbit Buku SKU
Penerbit Buku Ilmiah Populer Saturday, 2016-12-03, 5:18 AM

Welcome Guest | RSS
Main | Registration | Login
Site menu

Beranda
Buku Baru [0]
Daftar Buku Terbitan Terbaru
Segera Terbit [0]
Buku-buku yang segera terbit
Resensi Buku [1]
Tinjauan buku-buku terbitan SKU
Koleksi Buku [33]
Daftar buku-buku terbitan SKU
Penjualan Foto-foto Eksklusif [0]
Jasa Periklanan dan Public Relation [0]
Daftar Harga Buku [2]
Berikut harga buku terbitan kami

Main » 2009 » May » 12 » Pantura Jawa Edisi II
Pantura Jawa Edisi II
11:29 AM


Judul Buku      : Pantura Jawa (Peta Panduan Mudik
                          dan Wisata Lengkap)

Penulis            : RW Matindas dan Budiman

Penerbit          : PT. Sarana Komunikasi Utama

Tahun Terbit   : Oktober 2007

Tebal Buku      : xiv + 424 halaman full color 
 

Sekapur Sirih dari Penulis

Menjelajahi ujung barat hingga timur Pulau Jawa mulai dari Carita (Banten) hingga Banyuwangi (Jawa Timur) membawa kenikmatan dan kenangan tersendiri. Bukan apa-apa, dari situlah tercipta berbagai kenangan berharga dan sulit terlupakan. Di Carita misalnya, keeksotisan pantainya begitu menonjol sehingga mampu menyedot banyak pengunjung dari berbagai kota.


Tak jauh dari situ, tepatnya di Pantai Karangbolong menyimpan mitos tersendiri.  Believe it or not, seorang penderita penyakit kulit yang berkepanjangan bisa disembuhkan berkat mandi di sumur berair laut itu. Padahal, sebelumnya ia telah berobat mulai dari yang tradisional sampai modern.


Di sela-sela rasa lelah karena sudah dua hari menjelajahi berbagai tempat penting di Serang dan sekitarnya, tiba-tiba tubuh kami merasakan segar kembali.  Keceriaan dan semangat mencuat lagi. Hal serupa juga dirasakan rekan-rekan seperjalanan yang ikut tergabung dalam penjelajahan wisata ini.


Penyegaran kembali itu terasa setelah kami berendam di kolam Pemandian Air Panas Carita. Kualitas airnya memang unik; berkadar yodium tinggi namun kandungan belerangnya sangat kecil.


Selama 30 menit itulah kami berendam dan sesekali melakukan gerakan berenang. Kehangatan itu masih terasa ketika kami bersiap menyantap menu ikan bakar yang sudah dipesan sebelumnya. Keringat pun mengucur deras.


Semilirnya angin persawahan, membuat selera makan kami kian bernafsu. Menu sederhana; nasi panas, ikan bakar, sambal, kerupuk, dan lalapan yang dihidangkan secara lesehan di saung dengan kolam ikan di sekelilingnya itu cepat ludes, pindah ke perut kami.


Seluruh tubuh terasa begitu enteng. Apalagi tarif ikan bakar dan mandi air panas itu tidak seberapa dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh. Jadi, tak ada salahnya kalau pembaca juga mencobanya.


Lain lagi ketika kami berada di Makam Sultan Maulana Hasanudin yang berada di kawasan Masjid Agung Banten Lama. Nuansa religius lebih dominan. Ayat-ayat suci Al Quran dilantunkan peziarah di seputar makam Sultan Maulana Hasanudin (SMH).


SMH adalah raja pertama di Banten dan putra dari Sunan Gunungjati, salah satu anggota Wali Songo. Dialah yang mendirikan masjid beserta menara dengan gaya arsitektur Belanda kuno.


Tak jauh dari situ kami juga menikmati beragam koleksi benda antik di Museum Arkeologi Banten. Di situ terbayang seperti apa kehidupan masyarakat Banten tempo dulu.


Hal serupa juga kami rasakan ketika mengunjungi beberapa museum di Jakarta. Di Museum Nasional misalnya tersimpan koleksi benda-benda bersejarah seperti patung, peta, batik, perhiasan, dan lain-lain.


Sebagai ibukota negara, Jakarta juga menghadirkan wisata bernuansa monumental dan berteknologi modern seperti di kawasan Ancol dan Taman Mini Indonesia Indah.


Bergerak sedikit ke timur, tepatnya di Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, kami menapak tilas mencoba membayangkan detik-detik kemerdekaan Republik Indonesia. Menurut kami, mulai dari sinilah titik nol Bangsa Indonesia melangkah dan membangun.


Betapa tidak, sehari sebelum kita merdeka, duet proklamator Bung Karno dan Bung Hatta ‘diamankan’ puluhan pemuda ke rumah warga keturunan China Djiauw Kie Siong di Rengasdengklok. Naskah Proklamasi pun disusun. Menginap semalam di situ, pagi harinya (17 Agustus 1945) rombongan kembali ke Jakarta untuk mendeklarasikan Kemerdekaan RI.


Kami merasa sangat bersyukur berada di rumah beserta beberapa parabotan sederhana seperti aslinya. Lebih-lebih kami juga diterima dengan ramah dan baik oleh cucu pemilik rumah tersebut, Kwin Moy.


Berbagai cerita ia paparkan apa adanya. Bahkan sebagian besar dari penuturannya itu belum pernah terungkap ke khalayak ramai. Semua itu kami tuliskan untuk Anda di buku ini.


Sekali lagi kami bangga dan layak bersyukur mendapatkan informasi tersebut. Kami berharap, mudah-mudahan  buku ini bisa melengkapi catatan sejarah bangsa.


Melaju ke arah timur mulai dari Cirebon sampai Surabaya, kami merasa berada di dua kultur yang berbeda. Apalagi setelah kami menjelajahi ke-9 makam Wali Songo beserta masjid-masjid peninggalan mereka yang memang tersebar di sepanjang jalur pantai utara (Pantura) Jawa.


Peradaban yang bernuansa Islam dan Hindu melekat erat dengan tetap menonjolkan kearifan lokal. Di Masjid Agung Demak misalnya, arsitektur bangunannya lebih mencerminkan suasana beriklim tropis. Atapnya bersusun tiga berbentuk segitiga sama kaki. Kayu tropis mendominasi bangunan tersebut.


Sejak awal mula dibangun, mesjid tertua di Pulau Jawa itu memang tidak memiliki menara. Tujuannya, umat Muslim ingin menjalin toleransi dengan warga Hindu yang ketika itu memang mendominasi peradaban manusia.


Kami juga terkesima dengan keindahan stalagmit dan stalaktit di Gua Maharani, Lamongan.  Wajar saja demikian. Menurut speleolog Dr KRT Khoo, gua tersebut adalah gua terbaik di Indonesia dan pantas disejajarkan dengan gua wisata di Spanyol (Altemira dan Mammoth) serta Prancis (Coranche).


Kami merasa beruntung, di bawah panduan Sugeng yang juga sebagai penemu gua tersebut, bisa melihat beberapa stalaktit yang masih terus tumbuh. Laju pertumbuhan itu mencapai 1 cm selama 10 tahun.


Di balik keajaiban itu, banyak cerita mistis dari gua yang ditemukan pada 6 Agustus 1992. Menurut Sugeng, gua tersebut dihuni oleh putri ghaib berparas cantik. ‘’Kalau Roro Kidul sebagai penjaga laut selatan Jawa, maka Kanjeng Putri ini adalah penjaga laut utara Jawa,’’ kata Sugeng menjelaskan


Sebelum mengakhiri perjalanan di Pelabuhan Penyeberangan Ketapang, Banyuwangi, kami juga melintasi hutan jati di kawasan Taman Nasional Baluran, Situbondo. Sayang memang, musim kemarau melanda kawasan tersebut sehingga tampak seperti hutan mati, daunnya meranggas, kering, dan berguguran.

Demikianlah selintas mengenai perjalanan kami menembus berbagai objek wisata di Jalur Pantura. Kumpulan tempat-tempat penting dan bersejarah itu lalu kami kemas menjadi buku yang sedang Anda baca ini.


Kami berharap buku ini bisa menjadi panduan Anda ketika melintas di Jalur Pantura baik di sela-sela tugas dinas maupun perjalanan pribadi Anda bersama keluarga. Karena itulah, di buku ini selain menguraikan tempat-tempat indah dan bagaimana menuju ke lokasi tersebut juga menampilkan berbagai peta.


Peta panduan ini tergolong unik dan baru pertama kalinya dikenalkan di Indonesia. Peta Pulau Jawa selama ini memang disajikan memanjang berdasarkan arah barat dan timur. Namun di buku ini diputar arahnya sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam mengenali daerah-daerah tersebut di sepanjang perjalanan Anda.


Bukan hanya itu. Peta tersebut juga berisi ribuan nama-nama geografi dan jarak antarkota di sepanjang Jalur Pantura Jawa.

Walaupun Jogjakarta bukan merupakan Jalur Pantura Jawa, kami merasa perlu menyajikannya di buku ini. Bukan apa-apa, di jalur ini juga sarat dengan kekayaan wisata alam, budaya, sejarah, dan agama.


Bukan cuma di Jogjakarta, pusat-pusat kota lainnya seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya juga kami tampilkan dalam bentuk peta wisata secara khusus. Bagi DKI Jakarta ditampilkan jalur-jalur busway baik yang sudah beroperasi maupun sedang dalam tahap pembangunan. Semua itu kami lakukan semata-mata untuk memudahkan perjalanan Anda agar terasa lebih nyaman dan menyenangkan.


Kami juga merasa perlu memberi koordinat (lintang selatan dan bujur timur) di tempat-tempat penting itu dengan menggunakan alat Global Positioning System (GPS atau sistem penentu lokasi). Dengan demikian, ketika Anda membawa GPS, arah yang dituju semakin mudah dan cepat dicapai.


Di bulan suci ini, kami bersukur kepada Allah. Sebab, di tengah-tengah rutinitas dan kesibukan bekerja, kami bisa menyajikan buku Pantura Jawa, Peta Panduan Mudik dan Wisata Lengkap edisi kedua.


Isi buku edisi kedua ini sebenarnya tak jauh beda dengan edisi sebelumnya. Hal ini tak terlepas dari hasil survei terbaru kami beberapa bulan yang lalu. Soal tarif masuk ke tempat wisata misalnya, tidak mengalami kenaikan harga dibandingkan setahun lalu.


Kami hanya melakukan perubahan kenaikan tarif jalan tol yang memang sudah mengalami perubahan sejak 4 September 2007 lalu. Perubahan lain paling menonjol pada edisi buku yang sedang Anda baca ini terletak pada informasi hotel yang lebih lengkap dibandingkan edisi sebelumnya.


Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan dan penerbitan buku ini. Ucapan serupa juga kami sampaikan kepada rekan-rekan di Bakosurtanal yang telah memberikan akses untuk mengolah peta-peta mudik dan wisata.


Kepada rekan-rekan di Suara Pembaruan yang telah memberi saran dan masukan, kami patut berterima kasih. Kami mohon maaf jika ada hal-hal yang tidak berkenan dari buku ini. Kami selalu membuka kritik dan saran agar isi buku ini bisa menjadi lebih baik di edisi berikutnya.

 

Jakarta,  Oktober 2007

Rudolf Wennemar Matindas dan Budiman

Category: Koleksi Buku | Views: 248 | Added by: penerbitsku | Rating: 0.0/0 |
Total comments: 0
Only registered users can add comments.
[ Registration | Login ]
Login form

News calendar
«  May 2009  »
SuMoTuWeThFrSa
     12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31

Search

Site friends

Statistics


PT.Sarana Komunikasi Utama.JL.Drupada 3. No.2,Bogor. Telp/Fax: 0251 8379752 © 2016
Site managed by uCoz